
Titip Melati Depan Rumah
Oleh: Devi Nurdianti Sari (X-4)
“ Rahmi, jadi..kan kerja kelompok hari ini di rumah Lani?” Tanya seorang temannya. “Ah, hari ini aku capek sekali sepertinya aku tidak bisa pergi. Rasanya ingin langsung pulang ke rumah saja, tolong sampaikan maafku pada Lani ya!” Ujar Rahmi sembari memasukkan peralatan tulis kedalam tasnya.
Setibanya di rumah, adiknya yang bernama Rahma langsung menyiapkan teh manis hangat untuknya. Memang sekilas kakak beradik itu seperti kembar saja karena umur mereka hanya selisih satu tahun. Tapi perbedaan mereka sangat mencolok. Setiap harinya Rahma hanya duduk-duduk saja di kursi roda kesayangannya, sesekali diapun berjalan dengan bantuan tongkat yang dari dulu sudah menjadi sahabatnya itu. Tapi walaupun keadaanya seperti itu dia tidak pernah merasa sedih. Dia selalu gembira, rajin, tidak pernah meninggalkan sholat, dan waktunya tidak pernah dia buang dengan sia-sia. “Oh iya, nanti sore bisa temenin Rahma ke dokter? Agak demam sekalian chek-up.” “Pergi saja sendiri pake tongkat atau telepon taksi!” tolak Rahmi. “Eh, kamu ada uang gak? Bukankah puisi kamu baru di muat? Aku ikut nyumbang tenaga nganterin ke kantor pos lho!” Rahma mengeluarkan uang dari dompetnya. “Tapi pulangnya jangan terlalu malam ya!”
Malam harinya Rahmi mendapat telepon dari pacarnya. “Tidak perlu lagi kau jelaskan! Aku sudah tahu semua kebusukanmu. Tadi siang aku melihat kau dan Lani bergandengan tangan sambil bermasraan. Sekarang jangan meneleponku lagi!” Tegas Rahmi seraya menutup teleponnya. Tangisnya langsung memecah keheningan malam. Rahma berusaha untuk menenangkan kakaknya. “Cinta itu memang kadang tidak bisa kita pahami. Kadang harus berkorban, kadang pula dikorbankan. Kadang bisa membuat suka, kadang juga duka. Tergantung kita sendiri, apa kita bisa memeliharanya dengan baik atau tidak. Begitu juga cinta Alloh SWT kepada kita. Alloh menciptakan kita untuk beribadah kepadanya, mencintainya dengan ikhlas dan sepenuh hati. Alloh SWT senantiasa memberikan nikmat yang begitu besar kepada kita. Tapi kenapa kita malah mengkhianati cinta-Nya, kenapa kita malah mengacuhkan cinta-Nya, kenapa kita malah menduakan cinta-Nya. Pernahkah kakak berfikir seperti itu?” Tanya Rahma. “Mencintai lawan jenis adalah hal yang wajar. Tapi menurut Rahma sebelum kita mencinta lawan jenis, cintailah diri sendiri, keluarga, cita-cita dan masa depan kita terlebih dulu. Cintailah orang-orang yang tak seberuntung kita….”
“ Cerewet… bisa gak sih kamu ngertiin perasaan orang? Bisa gak sekali aja kamu diem dan jangan pernah nasihatin aku dengan kata-kata puitismu itu! Sebenarnya kamu seneng ka ngeliat aku dapet masalah seperti ini, puas kamu?” Rahmi bangkit menuju kamarnya dan menyalakan lagu keras-keras.
“ Belum berangakat sekolah kak? Kakak kenapa, kok pucat? Sakit? Rahma menaruh tangannya ke dahi Rahmi, tapi dia malah menyingkirkan tangan Rahma. “Kakak demam!” Simpul Rahma. “Ini segelas susu hangat dan roti gandum kesukaan kakak. Makan dulu sebelum minum obat, kalau perlu nanti kita ke klinik ya?” Rahmi berkata gusar “Udah deh jangan sok care ama aku. Mending sekarang kamu siapin air hangat. Aku mau mandi!” “Dalam 15 menit akan selesai!” Ujar Rahma sambil memamerkan senyum penuh semangat.
Beberapa minggu kemudian. “Kak, kata dokter umur Rahma tidak lama lagi. Rahma boleh minta tolong gak? Anterin beli bunga melati dong, atau daripada ngerepotin kakak aja yang beliin. Minggu depan Rahma ulang tahun lho!” Canda Rahma. “Gak bisa! Lagi musim ulangan, banyak tugas. Lagian cerpen kamu kan baru dimuat, suruh orang aja buat beli.” Tolak Rahmi dengan nada kesal. “Kak, kenapa sih kita kayak kucing dan anjing yang selalu bertengkar tiap hati. Kenapa kita gak bisa akur seperti kakak beradik lainnya? Kalau Rahma memang sering buat kakak kesal, Rahma mengalah. Mulai detik ini Rahma gak akan ganggu kakak lagi!” Rahma terisak di atas kursi rodanya.
Dua bula berlalu. “Pulang sekolah langsung ke Rumah Sakit jagain adikmu yah! Selama Rahma di Rumah Sakit kamu sekalipun belum pernah menengoknya. Rumah sekarang jadi semrawut karena gak ada Rahma yang bangun lebih dulu tiap paginya.” Ujar Ibu sedih.. Rahmi yang sejak tadi menunduk tak tahan menahan tangisannya. Ia menangis di pangkuan sang Ibu. “Rahmi salah, banyak ngecewain Rahma. Rahmi pikir dengan bersikap egois dan cuek Rahma bisa tegar, gak cengeng dan gak menggantungkan dirinya pada orang lain.” Tiba-tiba telepon berdering. Ternyata itu dari pihak Rumah Sakit yang mengabarkan bahwa Rahma sudah tiada. Ayah, Ibu dan Rahmi segera menuju Rumah Sakit. Rahmi tidak berhenti menangis dan sempat pingsan. Hatinya tercabik. Air mata terus membasahi pipinya dengan deras. “Semua orang memang ingin sempurna. Tapi sempurna itu melelahkan…sempurna itu butuh pengorbanan. Hanya dengan bersyukur, sempurna akan tercapai. Kakak, titip melati di depan rumah kita ya! Semoga tetap segar mewangi seperti cinta Rahma yang selamanya hanya untuk kakak.” Sepenggal tulisan Rahma itu kini disimpan oleh Rahmi di hatinya yang terdalam. Nasihat-nasihat Rahma yang dulu, selalu diingat oleh Rahmi. “Manusia itu memang tidak ada yang sempurna, tapi dengan bersyukur sempurna akan tercapai.”
Sabtu, 02 Januari 2010
Cerpen,.......
Diposting oleh iis,novi,seri di 21.52
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar