Teka Teki Hidup di Malam Dunia Fana
Aku mencoba, memperhatikan siang yang menampakan cerahnya matahari dengan sangat jelas, memperhatikan malam yang menyebabkan matahari tertutup, tidak terlihat karena tersipu malu oleh sang bulan, dan juga benda-benda langit yang beredar, berserakan layaknya plankton-plankton didalam Lautan Samudra Hindia. Aku juga sempat meperhatikan bulan yang mengikuti jejak matahari, saat memberi cahaya kepada bumi terutama pada waktu malam 13 sampai malam 16.
Dan satu hal yang tak pernah aku lupa, yaitu memperhatikan sang fajar yang malu-malu mengintip tidurku di upuk timur sana.
Di malam 13, bulan terlihat putih pucat dan berbentuk bulat, ketika itu aku teringat pada satu nama yaitu Tuhan. Tuhan yang menciptakanku kedunia ini sebagai manusia, manusia yang mempunyai dua mata, satu lidah, dua bibir, dua telinga dan lengkap dengan akal juga pikiran sebagai tujuan untuk menempuh jalan yang ditunjukan olehNya. Antara jalan kemaksiatan dan jalan kebaikan. Tuhan juga telah memberi kesempatan kepadaku, untuk sekedar bisa mengguratkan tinta dengan sebuah simponi-simponi maha karya yaitu cerita-cerita di malam dunia fana.
Di malam ke 14, aku melihat cahaya di atas langit menampakan cemerlang sayap-sayap para malaikat yang bertetesan air kesucian dan keajaiban.
Adam dan Hawa itulah sepasang nama yang mengingatkanku pada puisi-puisi cinta yang mengalun di telinga, saat dua bibir yang bergumam bercerita tentang pembicaraan teori-teori cinta, ketika dua mata yang melihat segunduk fosil-fosil cinta, dimana merupakan kehidupan tentang evolusi cinta.
Saat Adam hidup sebatang kara, Tuhan ciptakan sosok yang terbentuk dari tulang rusuk Adam, hingga Adam kesakitan atasnya. Lahirlah sosok yang ber-nama Hawa yang cantik jelita, hingga Adam pun jatuh Cinta padanya. Adam sangat menginginkannya. Begitu indahnya Hawa. Jangan sakiti dia, sayangi dan cintai dia wahai Adam.
Di malam 15, aku terpana melihat bulan yang bersinar putih penuh dengan harapan. Aku pun berangan-angan ”Andai aku punya sayap, pasti aku bisa terbang ke bulan dan membawa sang fajar yang berbahagia dengan nirwana, agar ada kehidupan yang indah di bulan sana”.
Tapi semua itu cuma khayalan yang amat sangat indah. Beranjak larut malam, bulanpun masih terlihat segar dengan warna putihnya yang menciutkan hawa nafsuku, aku teringat akan kedua orangtuaku yaitu Ibu dan Bapaku. Ibu yang melahirkanku dan Bapak yang mencari uang untuk mengenyangkan perutku. Tidak lepas mereka berdua juga yang mem-besarkan ku sampai detik ini. Terutama Ibu, yang dulu mengorbankan setengah nyawa demi anaknya yaitu aku. Aku yang di kandung selama 9 bulan, aku yang selalu menendang-nendang perut Ibu, aku yang selalu digendong ketika merengek meminta makan. Dan aku setuju bahwa ”Surga itu Terletak di Kaki Ibu”.
Di malam ke 16, aku duduk meringkuk di dekat jendela sambil melihat bulan mati, bulan yang hitam, gelap dan mengerikan seperti penuh rasa dendam. Aku merinding, ketakutan akan satu kata, yaitu ”Kematian”. Tuhan menciptakan mahluk saling berjodohan seperti malam dan siang, atas dan bawah, kanan dan kiri, jahat dan baik, laki-laki dan perempuan, hidup dan mati, surga dan neraka. Sakratul Maut sebuah kata yang membuatku tak bisa berkata-kata lagi. Penuh tanda tanya karena Tuhan yang tahu segalanya. Jika aku mati lusa, mungkin aku akan pergi untuk selamanya dan mungkin kita bisa bertemu di surga. Tapi apa yang ku bawa, apakah sebuah peti harta, yang terbuat dari berlian.
Jelas tidak..!!! Yang ku bawa hanya kain putih biasa, bahkan harganya pun tidak melebihi kain sutra.
Aku hanya bisa berdoa dalam kotak dunia,
Berjalan diujung sebuah segitiga,
Persegi panjang tempatku berusaha,
Lingkaran patokanku di dermaga,
Spiral perancang berbakti kepada orangtua,
Vertikal cara memecahkan origami siksa neraka
Ikhtiar ditambah doa sang Ibunda tercinta,
Itulah rumus meracik angan-angan di surga.
Hari demi hari berjalan secara cepat layaknya kilasan kilat yang melesat. Teka teki malam ku di dunia, kini perlahan terkelupas dari kulitnya. Misteri demi misteri telah terjawab satu persatu.
Sekarang aku laksana hidup dalam naungan dua dunia,
Genap sama sekali tidak ganjil,
Haram sudah pasti tidak halal,
Buruk hanya saja tidak indah,
Disuruh sudah tentu di perintah,
Menangis percuma saja tidak basah,
Benar jika itu tidak salah,
Haaaahhhhhhhh.............................
Jumat, 06 November 2009
Diposting oleh iis,novi,seri di 22.47
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar